Home / Berita Daerah / Tahun Ini BKKBN Jabar Kembangkan Pojok KKBPK

Tahun Ini BKKBN Jabar Kembangkan Pojok KKBPK

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Jabar Yudhi Suryadhi (DOK. DUAANAK.COM)

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Jabar Yudhi Suryadhi (DOK. DUAANAK.COM)

Terbatasnya akses informasi program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga (KKBPK) di perdesaan menjadi salah satu perhatian utama Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat. BKKBN pun berencana mengembangkan semacam kedai-kedai informasi yang di dalamnya menyajikan informasi seputar program KKBPK.

 

Pada tahap awal, pojok informasi ini akan dikembangkan bersama antara BKKBN dengan 10 perguruan tinggi di Jawa Barat. Dari 10 pergurun tinggi tersebut, tujuh di antaranya berada di Bandung Raya yang sebelumnya sudah menjalin kerjasama dengan Perwakilan BKKBN Jabar. Adapun tiga lainnya tersebar di tiga simpul wilayah Jabar.

 

“Tahun ini kami akan menjalin kerjasama dengan Universitas Swadaya Gunung Djati (Unswagati) di Cirebon, Universitas Siliwangi (Unsil) di Tasikmalaya, dan Universitas Singaperbangsa (Unsika) di Karawang. Poin kerjasamanya masih sama dengan tujuh perguruan tinggi yang sudah terlebih dahulu bekerjasama dengan kami sejak 2012 lalu,” terang Kepala Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Jabar Yudhi Suryadhi di kantornya, 4 Maret 2014 kemarin.

 

Salah satu wujud konkret kerjasama tersebut, terang Yudhi, berupa penyediaan pojok informasi KKBPK selama berlangsungnya kegiatan kuliah kerja nyata (KKN). KKN dianggap penting karena pada umumnya dilaksanakan di perdesaan. Daerah rural ini cocok dengan sasaran penyebaran informasi KKBPK. Selama ini, imbuh Yudhi, warga perdesaan memiliki keterbatasan terhadap akses informasi program atau sekadar pelayanan KB.

 

Nah, peserta KKN di 10 perguruan tinggi tersebut akan mendapat pembekalan program KKBPK sebelum berangkat ke lokasi kegiatan. Selain mendapat informasi umum program, mereka akan langsung diarahkan untuk mengembangkan pojok informasi di masing-masing lokasi.

 

“Kami tidak akan memaksa mereka untuk menyediakan seluruh informasi program (KKBPK) kepada masyarakat. Mereka cukup memilih beberapa saja. Misalnya, corner tentang bina keluarga balita (BKB), lansia, pemberdayaan ekonomi keluarga, remaja, kontrasepsi atau KB itu sendiri, dan lain-lain,” papar Yudhi.

 

Tentu, mahasiswa tidak serta-merta membentuk pojok KKBPK. Di daerah yang di sana telah terbentuk Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR), peserta KKN tidak harus membuat pojok remaja. Sebaliknya, mereka cukup memperkuat keberadaannya. Pun dengan keberadaan kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) maupun BKB.

 

“Target kami, corner-corner yang dibuat oleh mahasiswa tadi kelak menjadi prototipe bina-bina atau PIKR di lokasi kegiatan yang bersangkutan. Sementara bagi daerah yang sudah ada, kami hanya ingin memperkuatnya. Model kerjasama ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya bersifat penyuluhan dan pelayanan. Saya kira pembuatan corner KKBPK ini lebih konkret dan terukur,” tandas Yudhi.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top