Home / Berita Daerah / Siswa SD juga Butuh Pendidikan Kespro

Siswa SD juga Butuh Pendidikan Kespro

MeTalkshow BKKBN-RRIngajarkan tentang berperilaku hidup sehat, kesehatan tubuh dan reproduksi, serta menghindari berbagai bentuk penyimpangan seksual ternyata tak hanya diberikan kepada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) saja, siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) juga membutuhkan pendidikan semacam itu. Bahkan siswa SMP harus mengetahui tentang dampak negatif dari seks bebas dan pernikahan dini. Seringkali muncul berita-berita tentang vidoe mesum yang dilakukan siswa SMP, atau seks bebas yang dilakukan siswa SMP. Salah satu penyebabnya, mereka tak memahami dampak dari perilaku menyimpang itu.

“Anak-anak harus diajarkan tentang kesehatan, mulai dari kesehatan diri hingga kesehatan dalam pergaulan sejak kecil, sehingga secara otomatis mereka akan diajarkan tentang kesehatan reproduksi (Kespro),” kata Kepala Sekolah SD Tunas Unggul Leli Anwar dalam talkshow tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat kerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI), di Auditorium RRI Bandung, Kamis (12/12/13).

Leli menjadi pembicara dalam talkshow itu bersama Kasubbag Kesehatan Masyarakat Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Pantjawidi dan Dewan Pembina STAR Jabar Dadan Zaenal Abidin. Talkshow diikuti oleh siswa SMP dan SMA dari berbagai sekolah yang ada di Kota Bandung. Kegiatan tersebut sebagai upaya memberikan pemahaman tentang Kesehatan Reproduksi dan PUP kepada anak didik.

Pantjawidi berbicara seputar kesehatan reproduksi dan peran pemerintah dalam melakukan sosialisasi kesehatan reproduksi bagi remaja. Selain itu juga, ia menjelaskan peran Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dalam memasyarakatkan Kespro bagi remaja dan model UKS yang ideal bagi remaja. Sementara Dadan Zaenal menjelaskan kiprah STAR Jabar dalam menyosialisasikan program Generasi Berencana (Genre) kepada para remaja.

Dalam paparan yang disampaikan Leli, sekolah harus mengajarkan kesehatan tubuh dan reproduksi karena sekolah merupakan salah satu institusi pendidikan yang memiliki peran besar dalam sosialisasi tersebut kepada siswa. Menurutnya, Guru memiliki peranan yang penting untuk mengajarkan hal itu kepada siswa. Disamping diajarkan di kelas, dalam mentoring guru pun berperan. ”Sejak sekolah Tunas Unggul berdiri, kami sudah memberikan materi tentang kesehatan diri dan perilaku hidup sehat kepada siswa SD dan SMP,” tutur Leli.

Ia menjelaskan, bahwa hal itu dilatarbelakangi terhadap kondisi siswa saat ini yang banyak melakukan penyimpangan seks. Ia menuturkan, bahwa sekolah Tunas Unggul memiliki kurikulum tentang materi itu yang telah dirancang khusus sebagai persiapan siswa saat memasuki usia usia remaja dan dewasa.

Materi tersebut diberikan melalui mata pelajaran yang terkait, juga melalui kegiatan mentoring. “Untuk siswa SD materinya diberikan di kelas 5 dan 6, sesuatu yang dibahas lewat materinya adalah hal-hal yang ada dalam diri mereka seperti cara membersihkan badan, tanda-tanda menuju pubertas, dan cara menjaga anggota tubuh mereka,” terang Leli.

Leli menjelaskan, dari pada siswa mencari informasi dan bertanya kepada orang yang tidak tepat, lebih baik pihak sekolah memberikan materi terkait kesehatan tubuh dan reproduksi sejak dini. “Harus diakui, siswa SD dan SMP sudah dapat mencari dan mendapatkan informasi melalui internet, sayangnya informasi yang mereka dapatkan mengarah pada perilaku menyimpang,” paparnya. (RDN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top