Home / Berita Daerah / Pencatatan Laporan KB di KBB Masih Lemah

Pencatatan Laporan KB di KBB Masih Lemah

Pelayanan KB di Desa Cipatik, Kabupaten Bandung Barat. (HENI SUHAENI/IPKB KBB)

Pelayanan KB di Desa Cipatik, Kabupaten Bandung Barat. (HENI SUHAENI/IPKB KBB)

BANDUNG – DUAANAK.COM

Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kabupaten Bandung Barat (KBB) memandang perlu memberikan pembinaan secara khusus tentang pencatatan pelaporan Keluarga Berencana (KB). Selama ini pencatatan pelaporan dari para petugas KB dilapangan dinilai masih lemah.

Menurut Kepala Bidang KB BP3AKB KBB Eli Hartika, hasil riset BKKBN Jabar tentang program KB, KBB termasuk dalam Kuadran I. Kuadran ini ditandai dengan  contraceptive prevalance rate (CPR) atau jumlah peserta aktif rendah dan total fertility rate (TFR) atau angka kelahiran total tinggi.

“Sebetulnya pengamatan kita, MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang-Red) di KBB dilakukan secara terus-menerus.  Tapi anehnya TFR-nya masih tinggi,” ujarnya di sela pelayanan KB Pria di Desa Cipatik Kecamatan Cihampelas, pekan lalu.

Mengupas tentang riset BKKBN tersebut, Eli berpendapat, kemungkinan besar masih terdapatnya kelemahan pencatatan pelaporan dari para petugasnya di lapangan. Kebetulan untuk pelaporan KB dari para kader KB yang disampaikan ke BKKBN tersebut secara online. Namun, para petugas KB melayani penggunaan alat kontrasepsi kepada masyarakat tanpa disertai pencatatan yang baik sehingga tidak terpantau oleh BKKBN.

“Makanya ini akan menjadi garapan kita, agar mereka bisa melakukan pelaporan pencatatan dengan baik. Insya Allah secara khusus akan kita programkan untuk pembinaan tentang pelaporan pencacatan ini,” ujarnya.

Sementara itu, pelayanan KB yang diselenggarakan di Desa Cipatik dilaksanakan sebagai upaya pemenuhan kesertaan ber-KB pada masyarakat seiring dengan perayaaan HUT RI ke-69. “Kegiatan ini pun sebagai upaya mendorong partisipasi para pria dalam ber-KB. Alhamdulillah hari ini KB MOP kembali bertambah. Ada 53 pria dan puluhan ibu-ibu yang memasang alat kontrasepsi,” ujarnya,

Selama ini terang Eli, kesertaan KP Pria vasektomi atau metode operasi pria (MOP), dinilai masih kurang sehingga perlu terus digalakan. Kendati demikian untuk KBB, peran serta Paguyuban KB Pria cukup baik sehingga minat para pria ber-KB terus meningkat. Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Cipatik inipun bisa terselenggara salah satunya berkat peran mereka dengan dukungan penuh Kades Cipatik beserta Puskesmas setempat.

Eli juga mengungkapkan sebelum pelayanan kegiatan tersebut, ada kegiatan KIE untuk KB Pria yang dikemas melalui hiburan Bale Bapak Semar Cawedor (Calung, Wayang Bobodoran). Melalui aksi tersebut diharapkan informasi yang disampaikan bisa dengan mudah ditangkap masyarakat.

Sementara Kades Cipatik Asep Agus berharap kegiatan jemput bola ber-KB pada masyarakatnya tidak sekali saja. Ia berharap ada kegiatan-kegiatan serupa mengingat di daerahnya masih banyak warga yang perekonomiannya masih lemah. “Selain KB ini merupakan persoalan kependudukan yang perlu dipikirkan bersama, program KB juga merupakan kegiatan mempersiapkan generasi berencana. Saya tentu dukung program ini sepenuhnya,” ujarnya.(HENI SUHAENI/IPKB KBB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top