Home / Berita Daerah / Pelayanan KB Jabar 2016 Dimulai dari Cidaun

Pelayanan KB Jabar 2016 Dimulai dari Cidaun

Kepala Perwakilan BKKBN Jabar Sugilar saat meninjau pelayanan KB di Puskesmas Cidaun, 3 Januari 2015. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Kepala Perwakilan BKKBN Jabar Sugilar saat meninjau pelayanan KB di Puskesmas Cidaun, 3 Januari 2015. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

CIANJUR-DUAANAK.COM

Malam pergantian tahun belum lama berlalu. Hari kerja belumlah datang. Semua masih dalam suasana liburan tahun baru 2016. Namun begitu, jauh di ujung selatan Jawa Barat sudah berlangsung pelayanan kontrasepsi. Tidak kurang dari 50 peserta KB baru dan ganti cara mengikuti pelayanan perdana di Puskesmas Cidaun, bagian paling selatan dari Kabupaten Cianjur, pada Minggu pagi 3 Januari 2016.

“Total ada 53 orang yang kami layani pada hari ini. Tiga di antaranya dipasang IUD, sisanya implant,” kata Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Cianjur Esih Sukaesih Karo-karo saat ditemui di sela pelayanan.

Esih menjelaskan, selain dari Kecamatan Cidaun, peserta KB anyar tersebut berasal dari Kecamatan Sindangbarang. Dua kecamatan ini termasuk daerah terluar di Jawa Barat yang sebelumnya terisolasi akibat buruknya kondisi jalan menuju ke daerah tersebut. Untuk memobilisasi calon peserta KB, pihaknya menjemput langsung ke rumah-rumah warga menggunakan sejumlah kendaraan operasional KB maupun menyewa secara khusus angkutan umum.

“Ada yang diangkut menggunakan sepeda motor milik PLKB, ada juga yang diangkut menggunakan kendaraan bak terbuka. Bagi kami, yang penting calon peserta KB bisa terlayani dengan baik,” kata Esih.

Upaya jemput bola ini pun langsung mendapat acungan jempol Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Cianjur Teddy Artiawan yang pagi itu turut memantau jalannya pelayanan di Puskesmas Cidaun. Bagi Teddy, pelayanan KB hari itu menunjukkan paradigma baru pelayanan publik.

“Bila sebelumnya petugas hanya menunggu masyarakat yang datang ke tempat pelayanan, (pelayanan) KB ini luar biasa. Para petugas sendiri yang datang menjemput dan mengantarkan kembali peserta KB. Ini pelayanan publik yang sangat prima. Terima kasih kepada BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) Jawa Barat yang telah memfasilitasi pelayanan ini,” kata Teddy.

Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Sugilar yang duduk berdampingan dengan Teddy hanya tersenyum mendapat pujian tersebut. Bagi Sugilar, pelayanan ala BKKBN tersebut merupakan tradisi yang telah lama dibangun. Terlebih untuk daerah-daerah yang masih kesulitan terhadap akses pelayanan KB. Pelayanan di daerah tertinggal, terpencil, dan perbatasan menjadi salah satu concern BKKBN dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk mendukung pelayanan tesebut, sambung Sugilar, pihaknya mengerahkan armada pelayanan mobile yang siap menjangkau daerah-daerah galciltas di Jawa Barat. Sampai saat ini, BKKBN telah menyerahkan sejumlah mobil unit pelayanan (Muyan) KB ke kabupaten dan kota di Jawa Barat. Selain itu, beberapa kabupaten dan kota mendapat dana alokasi khusus (DAK) untuk pengadaan alat transportasi peserta KB.

“Semua cara kami lakukan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kami menyiagakan armada pelayanan mobile di provinsi maupun kabupaten dan kota. Di samping itu, kami memberikan pelatihan-pelatihan kepada dokter dan bidan untuk memberikan pelayanan KB di klinik dan puskesmas. Sudah ribuan dokter dan bidan yang kami latih di Jawa Barat ini,” kata Sugilar.

Pehobi fotografi ini menjelaskan secara khusus, tahun ini pihak bakal terus menggenjot pelayanan KB maupun program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga (KKBPK) di desa-desa dan kampung-kampung. Strategi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menggulirkan pembangunan dari pinggiran.

“Pak Gubernur (Jawa Barat) benar-benar melaksanakan konsep membangun dari pinggiran ini. Roadshow Jabar Selatan selama tiga hari ini menjadi ajang Pak Gubernur untuk berdialog dengan masyarakat untuk kemudian mencari solusi bersama masyarakat. Inilah model pembangunan dari desa menuju kota, membangun dari pinggiran,” papar Sugilar yang sejak dua hari sebelumnya turut mendampingi Gubernur Ahmad Heryawan melakukan safari di Jabar Selatan.

Kukurusukan Gubernur Aher

Sugilar menjelaskan, pelayanan KB di Kecamatan Cidaun merupakan salah satu rangkaian kegiatan safari kunjungan kerja Gubernur Ahmad Heryawan yang dikemas dalam bentuk kukurusukan alias blusukan. Tradisi yang dimulai pada tahun lalu tersebut berlangsung selama tiga hari, 1-3 Januari 2016. Aher, sapaan akrab Ahmad Heryawan, mengku ingin memanfaatkan waktu libur akhir pekan awal tahun baru secara bermakna ke lima kabupaten di pesisir selatan Jawa Barat. Kelima daerah tersebut terdiri atas Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Garut, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Sukabumi.

“Agar libur bermakna, saya ajak pimpinan dinas terkait beserta keluarganya diawali dari Pangandaran dan berakhir di Pelabuhan Ratu. Kita ingin melihat pemandangan indah Jabar Selatan, sehingga pikiran nanti lebih segar,” kata Aher sebelum meluncur ke Pangandaran.

Rute yang ditempuh diawali ke lokasi penataan lahan parkir dan lahan rumah sakit RSUD Pangandaran yang dibangun dari Bantuan Keuangan Pemprov Jabar. Esok harinya, 2 Januari 2016, menuju ke Green Canyon, lalu ke obyek wisata terluar di Pangandaran yakni Nusa Manuk dan lokasi pencetakan sawah terbaru di Cikalong, Kabupaten Pangandaran.

Rombongan kemudian beranjak ke Pantai Cipatujah di Kabupaten Tasikmalaya, lalu ke Pantai Karang Paranje, Kabupaten Garut. Setelah itu, meninjau calon masjid di Desa Karangwangi, Mekar Mukti, Kabupaten Garut dan bermalam di Rancabuaya, Kabupaten Garut.

Pada hari terakhir, rombongan Gubernur menuju Cidaun di Kabupaten Cianjur untuk kemudian meninjau masyarakat dan petugas sekitar hutan di Cisujen, Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Dari Sukabumi, rombongan kembali ke Bandung.

Menurut Aher, pihaknya ingin menerima masukan rakyat sekaligus memastikan kondisi pembangunan di Jabar Selatan yang relatif tertinggal dibandingkan Jabar Tengah dan Jabar Utara. “Pada tahun 2010, di kawasan tersebut, kita memang betulan ke jalur offroad. Masih ada jalan harus masuk sungai lalu masuk jalan lagi. Tahun 2011 kami bangun lima jembatan, akses jadi lebih lancar,” katanya.

Saat ini, selain akses lancar, kondisi jalan provinsi sepanjang 130 km pun sudah termasuk kategori mantap tingkat tinggi. “Jalannya sudah ada yang beton, beberapa hotmix kategori bagus. Maka kami ingin nikmati jalan itu sekaligus ingin memantau perkembangan perawatannya,” paparnya.

Aher juga ingin memperoleh masukan terkait tata ruang, terutama soal pemukiman, yang belum seluruhnya baik. Sebab, sepanjang kawasan tadi, rerata rumah berdiri pinggir jalan raya saja namun ke belakangnya kosong. Dengan situasi tersebut, maka tidak terbangun kawasan pemukiman yang otomatis menyulitkan adanya pasokan air bersih, pembangunan sekolah dasar menengah, hingga puskemas.

“Kami ingin konsepnya lebih jelas, terutama dari sisi rencana detil tata ruang pemkab. Bagaimana caranya rumah-rumah depan permukaan jalan umum bisa masuk kawasan pemukiman sehingga daya dukungnya tercipta,” katanya.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top