Home / Berita Daerah / Mengajak Ber-KB dari Udara

Mengajak Ber-KB dari Udara

SUKABUMI – DUAANAK.COM

Halaman depan Radio CBS di Nagrak Sukabumi. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Halaman depan Radio CBS di Nagrak Sukabumi. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Pemancar yang menjulang lebih dari 20 meter ke udara menjadi satu-satunya penanda kehadiran radio komunitas (Rakom) di Kelurahan Nagrak Selatan, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Tak ada penunjuk jalan atau papan nama mencolok layaknya radio komersial di kota-kota besar. Inilah Radio CBS yang mengudara ada frekuensi 107.7 FM. CBS sendiri kependekan dari Caraka Buana Suara, nama resmi yang terdaftar di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Berbatasan dengan hamparan kebun singkong di bagian belakang dan sayap kanan studio, CBS seperti mahluk asing di sebuah kampung. Terlebih papan nama –sebut saja begitu– hanya berupa styrofoam yang dicat hitam hanya menyisakan dua huruf, B dan S. Sisanya mengelupas bersama cat krem yang menyelimuti sekujur bangunan. Meski begitu, CBS merupakan radio resmi anggota Jaringan Radio Komunitas (JRK) Jawa Barat.

“Kami ini satu-satunya rakom berizin resmi di Indonesia,” ujar Heri Agus, pengelola Radio CBS, saat menerima kunjungan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah (BKKBD) Kabupaten Sukabumi, pertengahan September 2014.

Klaim itu dikuatkan dengan selembar kertas salinan Izin Stasiun Radio (ISR) yang diterbitkan kementerian pimpinan Tifatul Sembiring tersebut. Dilihat dari Nomor Stasiun 0001 sebagaimana ditunjukkan dokumen tersebut boleh jadi memang CBS memang satu-satunya rakom pemilik ISR. Atau, bisa jadi CBS menempati urutan pertama dari daftar pemilik ISR tersebut. Ditelusuri dari portal resmi Kominfo, tak ada tautan yang memandu ke daftar pemilik ISR di Indonesia.

“Terima kasih sudah mampir ke sini. Di sini beda dengan radio di kota. Ini tempat kumuh,” ujar Heri berterus terang.

Usai membukakan pintu masuk bangunan berukuran lebih kurang 3×3 meter tersebut, Heri lantas mengibas-ngibas selembar majalah mengusir debu yang menyelimuti perangkat siaran. Tangan lainnya cekatan menyalakan mixer dan monitor komputer tabung tua berwarna putih kusam. Sementara itu, kaki kanannya aktif mengusir kerumunan semut yang muncul akibat gesekan daun pintu dan lantai ubin.

Pria yang mengaku pernah aktif di salah satu media televisi berita nasional ini mempersilakan tamunya menuju ruang lain yang terpisah sekat papan triplek dengan studio siaran. Karpet pun digelar. Obrolan pun mengalir, dari problem klasik rakom hingga dinamika program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga (KKBPK) di Kabupaten Sukabumi.

Ruang siaran Radio CBS berdampingan dengan ruang tamu lesehan. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Ruang siaran Radio CBS berdampingan dengan ruang tamu lesehan. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

“CBS sudah berkomitmen untuk membantu pemerintah, termasuk mendukung program KB. Bersama dengan anggota JRK Jawa Barat, CBS ikut mendeklarasikan dukungan (terhadap program KKBPK) di Lembang setahun lalu. Kami rutin menggelar talkshow menghadirkan narasumber dari Puskesmas atau orang KB di Nagrak,” jelas Heri.

Kepada tetamu, Heri menjelaskan radionya aktif mengudara selama 24 jam setiap harinya. Berbekal tujuh penyiar, CBS getol menyapa masyarakat di sekitarnya. Salah satu program unggulan CBS adalah wayang golek. Tak tanggung-tanggung, wayang khas Jawa Barat ini diputar setiap malam. Heri lantas menawarkan diri untuk menyiarkan pesan-pesan program KKBPK maupun talkshow di radionya.

Belasan kilometer dari Nagrak, gelombang 107,7 FM menyapa warga Kota Sukabumi dari lantai dua Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamsudin di Jalan Rumah Sakit. Gelombang yang sama dengan CBS tersebut rupanya milik Bunut FM yang mengudara di rumah sakit tersebut. Kominfo memang menyediakan tiga frekuensi FM untuk rakom: 107,7-107,9 FM. Dengan ketentuan daya jangkau maksimum rakom hanya 2,5 kilometer, idealnya tak ada dua rakom berebut frekuensi di tengah masyarakat.

Dibandingkan dengan CBS, Bunut FM jelas lebih bonafide. Berada satu lantai dengan ruang pertemuan rumah sakit, Bunut FM menempati sebuah ruangan kecil berpenyejuk udara. Sebuah panel berisi peralatan siaran manjadi penanda utama kehadiran radio komunitas yang dikembangkan pihak rumah sakit itu. Ada juga sebuah meja kecil yang dilengkapi dua kursi tempat narasumber menunggu giliran siaran.

“Pasien rumah sakit banyak yang datang dari luar Kota Sukabumi. Ini berarti jangkauan kami sebenarnya sangat luas. Pasien maupun keluarga pasien menjadi audiens kami setiap harinya. Materi siaran kami menjadi lebih didengar masyarakat, khususnya mereka yang berada di rumah sakit,” kata Deny, pengelola Bunut FM, saat menyambut tim monitoring BKKBN Jabar dan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (BPMKB) Kota Sukabumi.

Sesuai dengan tagline Radio Kesehatan yang diusungnya, Bunut memang lebih banyak menyajikan materi seputar dunia kesehatan. Narasumber pun lebih banyak praktisi kesehatan di rumah sakit pemerintah daerah ini. Tidak lama setelah tim monitoring meninggalkan studio misalnya, dari radio mobil tertangkap talkshow tentang kehamilan dan kontrasepsi dengan narasumber seorang bidan.

Menyampaikan Informasi, Menggerakkan Masyarakat

Berbincang dalam kendaraan menuju Kota Bandung, Kepala Sub Bidang Advokasi dan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) BKKBN Jawa Barat Elma Triyulianti mengaku mendapat banyak manfaat dari kunjungannya ke dua studio rakom di Sukabumi. Kebetulan dua rakom yang dikunjunginya memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. CBS berada di perkampungan dan perangkat siaran sederhana, sementara Radio Bunut lebih modern sekaligus ngepop.

“Dua-duanya memiliki keunggulan dan kelemahan. Bunut FM misalnya, meskipun audiensnya sangat jelas dan terukur, tetapi tidak efektif untuk penggerakkan. Mereka yang menyimak siaran radio di rumah sakit tidak bisa digeneralisasi sebagai masyarakat setempat. Artinya, mereka tidak bisa dijadikan sasaran penggerakkan program atau digiring menjadi peserta KB,” terang Elma.

Program KKBPK yang berbasis keluarga, sambung Elma, terikat dengan tempat pelayanan kesehatan. Dia mencontohkan, keluarga A berdomisili di RT, RW, kelurahan atau desa, kecamatan tertentu bisa diketahui berdasarkan data keluarga. Dalam dimensi program KKBPK, setiap keluarga memiliki petugas lini lapangan yang terikat dengan lokus administratif.

Radio Bunut di lantai dua RSUD Syamsudin Sukabumi. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Radio Bunut di lantai dua RSUD Syamsudin Sukabumi. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

“Dalam kasus Radio Bunut, statistik pendengar tidak bisa dikonversi menjadi sasaran penggerakkan program. Pasien dari Kabupaten Sukabumi tidak bisa digiring menjadi peserta KB di Kota Sukabumi. Bila dipaksakan, maka ini akan mengacaukan sistem pencatatan dan pelaporan peserta KB yang selama ini berlaku di BKKBN. Kami melihatnya Radio Bunut cocok untuk KIE,” papar Elma.

Lain lagi dengan CBS yang nota bene hadir di perkampungan. Meski massa pendengarnya mengambang, memiliki potensi menjadi media penggerakkan. Setelah di-KIE melalui udara, masyarakat setempat bisa langsung digiring untuk menjadi peserta KB di daerah bersangkutan. Penyiar bisa secara langsung merujuk pasangan usia subur (PUS) di sekitar pemancar untuk mendatangi tempat pelayanan KB, baik rumah sakit maupun klinik-klinik mandiri alias bidan praktik swasta.

Mempertajam sasaran itu, BKKBN Jabar menyiapkan instrumen sederhana untuk setiap rakom. Caranya, pengelola radio mengadakan kuis sekaligus hadiah bagi pemenang. Nah, setiap pemenang yang mengambil hadiah ke studio diminta mengisi istrumen tertulis berisi biodata dan kesertaan ber-KB. Melalui cara ini Elma berharap bisa terhimpun data keluarga secara akurat di setiap lokasi rakom. Data ini menjadi bahan bagi pengelola program KKBPK di daerah tersebut untuk melaksanakan KIE lanjutan atau pelayanan KB itu sendiri.

Cara lain yang ditempuh adalah dengan cara menggelar kegiatan off-air. Acara kumpul pendengar alias kopi darat (Kopdar) didesain menjadi ajang penghimpunan data keluarga di setiap lokasi rakom. Keluarannya sama, data keluarga untuk memperkuat data serupa yang diperoleh melalui pendataan rutin keluarga.

“Karena itu, kami melihat rakom strategis untuk advokasi, KIE, hingga penggerakkan di lapangan. Boleh jadi coverage-nya kecil, namun sasaran pendengarnya memiliki tingkat presisi tinggi. Karena milik komunitas, maka sudah bisa ditebak siapa pendengarnya, di mana rumahnya, dan lain-lain. Pengelola program di lapangan bisa dengan mudah memetakan kelompok sasaran,” Elma menambahkan.

Selain menjadi media KIE, sambung Elma, rakom menjadi energi baru bagi tenaga lini lapangan dalam mengajak masyarakkat untuk ber-KB atau membentuk kelompok kegiatan keluarga. Juga menjadi sentral informasi KKBPK. “Inginnya sih jadi base came tenaga lini lapangan untuk menyuarakan, mengerakkan, dan mengajak masyarakat. Juga membantu menjadi media pembelajaran tenaga lini lapangan dalam berkomunikasi di udara,” tambah dia.

Di sisi lain, Elma melihat rakom memiliki karakteristik unik dalam relasi antara penyiar dan pendengar. Sebagai komunitas, sudah barang tentu penyiar dan pendengar saling mengenal satu sama lain. Interaksi tak hanya di udara, melainkan lebih intensif di luar sekat dinding studio. Kekhasan ini menjadi kekuatan besar untuk penggerakkan program.

“Ada hubungan saling percaya antara penyiar dan pendengar rakom. Secara psikologi, model komunikasi ini jelas lebih efektif. Ini poin penting kemitraan BKKBN dengan rakom,” ujar praktisi psikologi yang kini menekuni ilmu manajemen tersebut.

Meski begitu, rakom bukan tanpa masalah. Secara teknis, banyak kendala yang belum bisa ditanggulangi. Sebuat saja misalnya kaitannya dengan rusaknya peralatan, kekosongan pengelola, hingga bubarnya komunitas. Dari aspek sumber daya, rakom memiliki keterbatasan dalam menghadirkan narasumber maupun mengumpulkan masyarakat.

“Karena itu, rakom butuh dukungan banyak pihak,” pungkas Elma.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top