Home / Berita Daerah / Lebih Dekat dengan Kampoeng KB di Kota Banjar (1)

Lebih Dekat dengan Kampoeng KB di Kota Banjar (1)

 

Suasana Bale Sawala Kampoeng KB Cigadung, Kota Banjar. Keberadaannya menjadi pusat kegiatan sekaligus pusat informasi KKBPK di kampung tersebut. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Suasana Bale Sawala Kampoeng KB Cigadung, Kota Banjar. Keberadaannya menjadi pusat kegiatan sekaligus pusat informasi KKBPK di kampung tersebut. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Pada 2011 lalu Kementerian Dalam Negeri menetapkan Kota Banjar sebagai salah satu daerah peraih Innovative Government Award Bidang Pelayanan Publik. Rupanya, penghargaan prestisius tersebut tak lepas dari keberadaan Kampoeng Keluarga Berencana (KB) yang tahun itu mulai dirintis. Pemerintah pusat menilai Kampoeng KB merupakan satu wujud konkret inovasi pelayanan publik. Seperti apa wajahnya, belum lama ini duaanak.com berkesempatan berkunjung ke salah satu Kampoeng KB, tepatnya di Dusun Cigadung, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

“Wilujeng Sumping di Kampoeng KB Dsn. Cigadung Ds Karyamukti Kec. Pataruman Kota Banjar”. Sapaan selamat datang dari bahasa Sunda itu menyapa siapa saja yang kebetulan melintas di bawah gapura kayu beratap ijuk di perbatasan Dusun Cigadung. Selain wujud someah-nya urang lembur, sapaan tersebut juga menjadi penanda nyata predikat Kampoeng KB di kampung atau dusun tersebut.

Gapura Kampoeng KB di Kota Banjar. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Gapura Kampoeng KB di Kota Banjar. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Tidak jauh dari gapura tampak sebuah papan informasi terbuat dari lembaran kayu dengan cat dominan biru berisi pesan pokok “8 Fungsi Keluarga” yang menjadi ruh dari program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga (KKBPK) di Indonesia. Pesan-pesan bernuansa program KKBPK juga bisa dibaca sepanjang jalan menuju pusat kampung beberapa kilometer dari gapura.

Lebih dari sekadar menampilkan jargon program seperti “Ayo Ikut KB” atau “KB Sukses Rakyat Sejahtera” sebagaimana terpampang di beberapa titik, terdapat pula pesan-pesan berbahasa daerah atau modifikasi dari akronim dan singkatan baku program. Intip saja misalnya papan informasi di satu sudut jalan dengan tulisan PLKB. Bila PLKB dikenal dengan kepanjangan petugas lapangan keluarga berencana, di papan tersebut dimodifikasi secara kreatif. Di sana, PLKB diuraikan sebagai (P)ajuang nu tandang tur lantang –Pejuang yang datang dengan lantang; (L)akonan jalan pilemburan –Menjalani tugas di perkampungan; (K)aayan hujan jeung panas lain halangan –Kondisi hujan dan panas tidak jadi hambatan; (B)abakti sangkan KB ngajadi bukti –Berbakti untuk mewujudkan program KB.

Ajakan menggunakan kontrasepsi juga dikemas kreatifdalam bahasa Sunda. Salah satunya ajakan menggunakan IUD alias alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). “Patani Pake IUD, Hirupna Jadi Walagri” –Petani menggunakan IUD, hidupnya jadi sehat. Di tempat lain, “Hayu urang milu KB sangkan hirup teu barabe” yang berarti Ayo ikut KB agar hidup tidak berabe! Pesan-pesan itu menyelimuti setiap sudut kampung. Menempel pada pohon atau dibuat secara khusus dengan penyangga kayu.

Gang Alokon

Ada lagi yang menarik perhatian ketika mencermati nama-nama gang di sepanjang jalan desa. Nama-nama bunga seperti anggrek, melati, dan lain-lain atau petuah hidup seperti gang rukun, damai, dan lainnya tentu tak asing lagi. Nama-nama menjadi pilihan lazim di banyak tempat. Nah, di Kampoeng KB tidak demikian. Alat dan obat kontrasepsi menjadi pilihan.

Gang IUD di Kampoeng KB. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Gang IUD di Kampoeng KB. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Tim duaanak.com yang menyusuri jalan terbalik dari Bale Sawala menuju gerbang kampung, berturut-turut menemukan Gang MOW, Gang Suntik, Gang MOP, Gang Pil, Gang IUD, dan Gang Implant. Ternyata penamaan gang juga tidak sembarangan.

“Tidak asal alokon. Nama gang ini sesuai dengan tingkat pemakaian kontrasepsi di gang tersebut. Gang MOP misalnya, berarti itu menggambarkan di gang tersebut dominan peserta MOP alias sterilisasi pria. Begitu juga dengan nama gang lainnya,” papar Rohayati, PLKB Desa Karyamukti, yang pagi itu memandu kunjungan di Kampoeng KB Cigadung.

Lalu, bagaimana bila terdapat beberapa desa memiliki tingkat pemakaian kontrasepsi yang sama? Mudah saja. Menurut Rohayati, khusus Gang Pil dan Suntik memiliki banyak gang. Benar saja, di sana terdapat Gang Suntik I, Suntik II, dan seterusnya.

“Faktanya memang begitu. Meskipun CU/PUS atau prevalensi kontrasepsi tingi mencapai 83,26 persen, itu masih didominasi pil dan suntik. Sekarang lumayan berkembang menuju metode kontrasepsi jangka panjang atau MJKP. Bahkan, di RW 03 peserta KB implant paling banyak di banding kontrasepsi lain,” jelas Rohayati.

Bale Sawala Kampoeng KB

Di luar kekhasan tadi, ada yang paling ikonik di Kampoeng KB Kota Banjar: Bale Sawala. Bale Sawala yang berarti balai pertemuan tersebut menjadi pusat kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan program KKBPK. Wajar bila pagi itu tim duaanak.com disodorkan seabrek buku tamu.

“Ini tamu buat BKB. Ibu (buku tamu) BKR, lalu BKL. Yang ini PIK Remaja. Pokoknya semua kelompok kegiatan berkumpul di sini. Kegiatannya bergiliran setiap hari,” ujar Surtimanah diiyakan Leni Herlina dan Ai Titin, ketiganya kader KB RW 03, Dusun Cigadung.

Bagian depan Bale Sawala Kampoeng KB di Dusun Cigadung Kota Banjar. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Bagian depan Bale Sawala Kampoeng KB di Dusun Cigadung Kota Banjar. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Tak hanya itu, Bale Sawala Kampoeng KB juga berfungsi sebagai pusat data KKBPK di dusun tersebut. Di sana terpampang papan “Profil Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga” yang diperbarui setiap bulan. Di sisi lain tampak berderet peta keluarga masing-masing RT di dusun tersebut. Di Cigadung, Bale Sawala berdiri di tepi kolam ikan dengan bagian muka langsung menghadap jalan raya dusun. Bagian belakang dibiarkan terbuka sehingga angin leluasa masuk ke dalam ruangan.

“Ini hasil pendataan terbaru. Kami pasang di sini untuk memudahkan kader dalam menggarap keluarga sasaran. Dari sini kita bisa mengetahui keluarga mana memakai kontrasepsi apa atau tidak memakai sama sekali. Bale Sawala ini benar-benar menjadi pusat sumber daya informasi KB di dusun kami,” kata Umar, Ketua Kampoeng KB sekaligus Kepala Dusun Cigadung, yang pagi itu ikut kongkow di Bale Sawala.

Umar bercerita, Bale Sawala Kampoeng KB merupakan buah kolaborasi pemerintah daerah dan masyarakat. Pemerintah Kota Banjar memberikan dana stimulan Rp 10 juta, sementara sisanya swadaya masyarakat. “Tidak semua berbentuk uang tunai. Masyarakat membantu mulai tenaga sampai bahan bangunan. Akhirnya kami bisa mendirikan bangunan ini,” jelas Umar.(NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

(Latar belakang, mekanisme pembentukan, indikator, pengembangan, dan lain-lain disajikan dalam tulisan berikutnya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top