Home / Berita Daerah / Kabupaten Bandung Barat Center of Exellence PIK Remaja

Kabupaten Bandung Barat Center of Exellence PIK Remaja

Bupati Terbitkan Dua Perbup Sekaligus

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dan Wakil Bupati Bandung Barat Yayat T Soemitra di tengah anggota PIK Remaja SMPN 1 Cisarua beberapa waktu lalu. (DOK. WARTA KENCANA)

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dan Wakil Bupati Bandung Barat Yayat T Soemitra di tengah anggota PIK Remaja SMPN 1 Cisarua beberapa waktu lalu. (DOK. WARTA KENCANA)

Upaya membangun ketahanan remaja di Kabupaten Bandung Barat (KBB) patut mendapat acungan jempol. Bagaimana tidak, KBB tercatat satu-satunya daerah di Jawa Barat yang memiliki dua peraturan bupati (Perbup) yang di dalamnya mengatur program ketahanan remaja.

Pertama, Perbup Nomor 23 Tahun 2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Kedua,  Perbup Nomor 24 Tahun 2015 tentang Pedoman Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR) di Lingkungan Kabupaten Bandung Barat. Dua perbup ini diteken Bupati Abubakar pada hari yang sama, 29 Juni 2015.

Ditemui Warta Kencana di kantornya beberapa waktu lalu, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) KBB Asep Ilyas menjelaskan, penyusunan Perbup PUP bermaksud memberikan acuan bagi satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait dalam menyelenggarakan program PUP. Sementara Perbup PIK Remaja dimaksudkan menjadi pegangan atau acuan bagi pengelola program dan pengelola PIK R/M dalam rangka menumbuhkembangkan PIK R/M di daerah, dalam hal ini KBB.

“Perbup ini lahir di tengah satu kenyataan bahwa usia kawin di KBB masih rendah, belum mencapai usia ideal: 20 untuk perempuan dan 25 untuk laki-laki. Ini terobosan kami dan tentu saja atas dukungan Bapak Bupati yang sangat concern pada program KKBPK. Untuk mewujudkan PUP itu kami sangat membutuhkan kerjasama dengan para remaja itu sendiri melalui PIK Remaja. Karena itu, KBB juga sekaligus menerbitkan Perbup tentang PIK Remaja. Jadi, regulasi ini mengokohkan sinergi yang sebelumnya telah kami bangun bersama-sama,” papar Asep.

Lebih spesifik Asep menjelaskan, PUP sebagaimana diatur dalam perbup tersebut bertujuan memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar di dalam merencanakan keluarga, mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, soaial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran. Implikasinya, maka perlu peningkatan usia kawin menjadi lebih dewasa.

Dalam pelaksanaannya, program PUP di KBB dilaksanaan melalui empat pelayanan. Yakni, kesehatan reproduksi bagi remaja, hak-hak reproduksi, keterampilan hidup (life skills), dan penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja. Keempat jenis pelayanan tersebut dirinci dalam Bab III Perbup 23/2015 Pasal 5 sampai Pasal 14.

Poin penting dalam Perbup 23/2015 terletak pada Bab IV tentang Kelembagaan Program PUP. Di sini, PUP bukan lagi semata-mata urusan BP3AKB, melainkan menjadi tanggung jawab daerah. Penyelenggaraan program PUP dilaksanakan oleh sebuah kelompok kerja (Pokja) yang dipimpin sekretaris daerah. Pokja juga melibatkan instansi lain seperti Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD), dan perangkat daerah terkait lainnya.

Sejumlah SKPD yang tersurat langsung dalam dokumen perbup tersebut sekaligus berperan sebagai instansi teknis pembina. Dinas Kesehatan sebagai instansi teknis pembina pelayanan kesehatan reproduksi remaja dan pelayanan hak-hak reproduksi remaja. BP3AKB untuk pelayanan hak-hak reproduksi remaja, keterampilan hidup, dan penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja. Dinas Pendidikan Pemudan dan Olahraga untuk pelayanan keterampilan hidup dan penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja melalui pengembangan PIK R/M. Dinas Sosial dan Tenaga Kerja untuk keterampilan hidup dan penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja. BPMPD berperan sebagai instansi teknis pembina pada peningkatan ekonomi keluarga. Pokja dan instansi teknis pembina ini bertanggung jawab langsung kepada Bupati Bandung Barat.

“Ketika bicara PUP maka BP3AKB tidak bisa berjalan sendirian. Ini melibatkan SKPD lain. Alhamdulillah Pak Bupati dengan visi Bandung Barat Cermat dan moto ‘Esok harus lebih baik dari hari ini’ bila dikaitkan dengan program KKBPK, maka sasarannya adalah ketahanan keluarga. Artinya kita harus melihat lagi delapan fungsi keluarga, mulai fungsi agama, sosial, lingkungan, dan lain-lain. Otomatis ini melibatkan semua SKPD, kita harus bersama-sama,” tandas Asep.

Cara kerja berjamaah juga berlaku untuk pengelolaan PIK R/M. Pada Pasal 5 Perbup 24/2015 disebutkan, untuk kelancaran pelaksanaan progran dan pengelolaan PIK R/M, Bupati membentuk Kelompok Kerja Operasional PIK Remaja. Kelompok kerja ini terdiri atas BP3AKB, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan instansi lainnya.

Perbup kedua ini membahas lebih rinci pengelolaan PIK R/M, mulai dari kebijakan dan strategi, kegiatan-kegiatan pengelolaan, hingga mekanisme pengelolaan. Sebagai pedoman pengelolaan, tampak perbup ini lebih dari cukup untuk memandu bagaimana sebuah PIK Remaja atau PIK Mahasiswa bisa bergulir secara ideal.

Tak berlebihan memang mengingat sejauh ini KBB dikenal sebagai pusat inovasi sekaligus salah satu center of exellence pengelolaan PIK Remaja di tanah air. Sejumlah PIK Remaja KBB merupakan langganan juara tingkat Jawa Barat maupun nasional. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah SMS Gateway dan aplikasi Android PIK Remaja. Saluran ini ditujukan untuk mempercepat pertukaran informasi sekaligus sebagai media pembelajaran interaktif bagi para remaja.

“Sebelumnya program kami terbatas oleh ruang dan waktu. Diskusi dan pembinaan itu sebenarnya tetap berlanjut di dalam realitasnya, tapi untuk mempercepat penyampaian pesan perlu dilakukan suatu inovasi, yaitu melalui SMS Gateway dan aplikasi android,” kata Asep.

Bupati Abubakar menyambut baik peluncuran SMS Gateway dan aplikasi Android PIK-R. “Bahwa dalam rangka membangun sebuah komunikasi, mereka dapat memanfaatkan teknologi. Dengan demikian, komunikasi, informasi, dan edukasi jadi lebih mudah diakses oleh para remaja,” kata Abubakar saat peluncuran SMS Gateway dan aplikasi Android tersebut beberapa waktu lalu.

Dia berharap, inovasi yang dikembangkan BP3AKB Bandung Barat itu dapat dijadikan model pembinaan remaja di daerah lain. “Dengan adanya sarana ini, komunikasi para remaja tidak akan terputus dan pada akhirnya bisa menjadi generasi yang dapat dibanggakan,” tuturnya.

Ketua Forum PIK Remaja KBB Dadan Zaenal Abidin yang turut hadir dalam pertemuan bersama Kepala BP3AKB dan para kepala bidang di lingkungan BP3AKB menjelaskan resep di balik moncernya performa PIK R/M di KBB. Salah satunya adalah kaderisasi yang berjalan secara simultan antargenerasi. Faktor lainnya adalah pelibatan tokoh masyarakat setempat dan tokoh agama.

“Mengapa PIK Remaja berbasis masyarakat itu lebih kokoh? Karena remaja bersangkutan sehari-hari tinggal di masyarakat. Mereka berkegiatan di sana, hidupnya di sana. Rumah Remaja misalnya, sudah berdiri 11 tahun dan eksis sampai sekarang. Mengapa di sekolah cepat muncul dan tenggelam lebih cepat? Karena sekolah dibatasi tiga tahun. Namun demikian, kami juga tidak melupakan basis sekolah, basis pesantren, basis kepemudaan, dan yang lainnya. Semua kami garap bersama-sama,” kata Dadan.

Peraih penghargaan Dharma Karya Kencana ini menjelaskan, saat ini berdiri 175 kelompok PIK Remaja di KBB. Dibandingkan dengna jumlah desa sebanyak 165 desa, berarti ada desa yang di dalamnya memiliki lebih dari satu kelompok. Bahkan, ada di antaranya yang memiliki tiga kelompok. Sementara total populasi remaja di KBB mencapai 425 ribu jiwa.(*)

(Versi cetak artikel ini bisa dibaca pada  Majalah Warta Kencana: Media Advokasi Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Jawa Barat Nomor 26/Tahun VI/Edisi Khusus Akhir Tahun 2015 halaman 28-30)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top