Home / Berita Utama / Membangun Sinergi dari Lini Paling Bawah

Membangun Sinergi dari Lini Paling Bawah

Lindawati, Kepala Puskesmas Bogor Timur. Mencoba menerapkan sinergi lini lapangan. (DOK. WARTA KENCANA)

Lindawati, Kepala Puskesmas Bogor Timur. Mencoba menerapkan sinergi lini lapangan. (DOK. WARTA KENCANA)

Eskpresi Lindawati, Kepala Puskesmas Bogor Timur, tampak gregetan ketika menceritakan pengalamannya selama dua pekan melakukan kunjungan lapangan di wilayah kerjanya. Dokter gigi magister kesehatan masyarakat ini mengaku tidak habis pikir ketika menemukan keganjilan di tengah masyarakat miskin.

 

Keganjilan itu memang lumrah di tengah masyarakat. Sejumlah keluarga miskin yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya masih kesulitan ternyata memiliki lebih dari dua anak. Lindawati menduga faktor budaya tidak bisa dipisahkan dari realitas sosial ini.

 

“Coba Bapak bayangkan, seorang penunggu parkir motor di Katulampa anaknya sudah tiga orang. Padahal, dia masih muda. Kalau dihitung, pendapatan suaminya dari menunggu parkir itu berapa? Bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan asupan gizi anaknya dengan baik? Ketika saya tanya mengapa punya anak banyak, dia hanya tersenyum,” Lindawati menceritakan pertemuannya dengan sebuah keluarga di dekat Bendung Katulampa, Bogor.

 

Sebagai pengelola puskesmas, ibu muda ini memang nyaris setiap hari berhadapan dengan masalah kelahiran atau setidak-tidaknya kehamilan. Maklum, pihaknya mendapat titah wajib dari negara untuk memberikan pelayanan keluarga berencana (KB), sejak kehamilan hingga pascapersalinan. Jampersal alias jaminan persalinan mengharuskan tenaga kesehatan untuk memberikan layanan persalinan secara cuma-cuma kepada seluruh perempuan melahirkan.

 

Dalam benak Lindawati, fasilitas cuma-cuma dianggap kurang klop dengan spirit pengendalilan penduduk melalui program KB. Padahal, dua-duanya program pemerintah. Pengalamannya selama mengelola puskesmas bersertifikat ISO tersebut menunjukkan adanya keengganan keluarga menjadi peserta KB dengan alasan ini-itu. Kalaupun mau, sebagian besar di antaranya memiliki kontrasepsi jangka pendek berupa pil dan suntik.

 

“Banyak faktor yang menyebabkan sebuah keluarga miskin punya anak banyak. Kemungkinan-kemungkinan itu pada umumnya antara lain berupa faktor pendidikan yang rendah, pengetahuan yang kurang memadai, juga budaya atau tradisi yang hidup di masyarakat. Meski termasuk kota, di Bogor saja sejumlah kalangan menganggap bahwa banyak berarti banyak rejeki,” Lindawati mencoba memberikan analisis.

 

Dalam dekapan budaya patriaki, sambung Lindawati, perempuan juga tidak berdaya menghadapi keinginan laki-laki. Dia mencontohkan, sejunmlah ibu melahirkan memutuskan tidak ber-KB karena dilarang suami. Padahal, alat kontrasepsi suntik atau pil tidak memerlukan persetujuan suami.

 

“Harusnya (Jampersal) untuk dua anak, seperti semboyan BKKBN. Karena Jampersal itu gratis, harusnya setelah melahirkan ada penekanan lebih kepada ibu melahirkan harus ber-KB. Kalau lebih dari dua, harus KB mantap atau MKJP. Kalau belum dua, diinformasikan untuk ber-KB non-MKJP. Masyarakat harus diedukasi bahwa peran orang tua itu bukan hanya memberi makan, tapi pendidikan sampai mengantar seseorang berhasil,” ujar Lindawati penuh semangat.

 

Sadar kompleksnya masalah, Lindawati menilai sudah saatnya semua lini bahu-membahu menyukseskan program KB. Bila selama ini KB identik dengan urusan BKKBN atau Kementerian Kesehatan, ke depan KB harus menjadi urusan bersama. Sinergi pun menjadi sebuah keharusan. Bahkan, sejak lini paling bawah sekalipun. Sinergi harus dibangun antar petugas, baik mereka yang berafiliasi dengan kesehatan maupun sektor lainnya.

 

“Intinya edukasi kepada masyarakat supaya masyarakat bisa ber-KB. Edukasi harus dilakukan oleh Dinas Pendidikan melalui sekolah atau Kementerian Agama melalui madrasah dan KUA. Harusnya KUA mengedukasi perencanaan kehamilan keluarga tersebut. Dengan begitu, sebelum menikah sudah mendapatkan informasi mengenai perencanaan kehamilan, jarak ideal punya anak, dan lain-lain,” tandas dia.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top