Home / Berita Utama / Kursus Calon Pengantin Bisa Wujudkan Keluarga Sakinah

Kursus Calon Pengantin Bisa Wujudkan Keluarga Sakinah

Kabid Pengendalian Penduduk BKKBN Jabar Yudhi Suryadhi (kiri) dan Abdurrahim, Kasubag Humas dan Informasi Kanwil Kemenag Jawa Barat (tengah). (DOK. BKKBN JABAR)

Kabid Pengendalian Penduduk BKKBN Jabar Yudhi Suryadhi (kiri) dan Abdurrahim, Kasubag Humas dan Informasi Kanwil Kemenag Jawa Barat (tengah). (DOK. BKKBN JABAR)

BANDUNG – DUAANAK.COM

Kursus Calon Pengantin (Suscatin) sejatinya bisa mempercepat terbentuknya keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Pelibatan lintas sektor mutlak diperlukan.

Demikian kesimpulan yang mengemuka dalam acara “Pemantapan Promosi Generasi Berencana (Genre) kepada Mitra Kerja”. Acara yang merupakan kerja bareng Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat dan Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat ini berlangsung Rabu, (26/10) di Park Hotel, Bandung. Dibuka oleh Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Perwakilan BKKBN Jawa Barat Yudhi Suryadhi, kegiatan kemitraan bertema “Pendewasaan Usia Perkawinan” ini dihadiri sekitar 80-an peserta, terdiri atas kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan Bimas Islam kabupaten/ kota serta kepala seksi remaja pada OPD KB kabupaten/ kota se-Jawa Barat.

Dalam sambutannya, Yudhi menegaskan bahwa program Genre memiliki tujuan mulia, yaitu menyelamatkan generasi muda. “Genre ini jika dijalankan dengan benar, akan menjadi solusi bagi masalah-masalah remaja yang dikenal dengan Triad KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) yaitu seks bebas, napza dan HIV/AIDS,” jelas Yudhi.

Tak kalah pentingnya, Yudhi juga menjelaskan betapa pentingnya pengendalian kependudukan di Indonesia. “Saat ini yang peduli hanya BKKBN. Kami berharap, melalui acara ini, kepedulian terhadap berbagai masalah penduduk juga akan dimiliki oleh rekan-rekan di instansi lainnya,” harapnya.

Dalam kesempatan lain, Abdurrahim, Kepala Sub. Bagian Hubungan Masyarakat dan Informasi Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat memaparkan bahwa usia pernikahan menentukan berhasil atau tidaknya pernikahan. Banyak terjadi, menikah di usia muda pada umumnya belum matang.

“Yang terjadi kemudian adalah perceraian, karena pasangan muda yang kebanyakan belum matang secara emosi,” jelasnya.

“Semakin tinggi usia pernikahan, semakin besar peluang untuk terbentuknya keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Minimal mereka (calon pengantin) tahu apa itu pernikahan,” tegasnya di hadapan para peserta.

Abdurrahim menambahlkan, salah satu solusi yang ditawarkan oleh Kementerian Agama adalah kursus pranikah atau biasa disebut dengan Suscatin.

“Tujuan Suscatin adalah meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang kehidupan rumah tangga/keluarga sehingga bisa terbentuk keluarga sakinah, mawaddah warahmah, serta untuk mengurangi angka perselisihan, perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga,” papar pria berpeci ini.

Dalam kursus pranikah, papar Abdurrahim, KUA dapat melibatkan ulama setempat, MUI, juga instansi lainnya. “Misalkan saja BKKBN, dapat dilibatkan dalam memberikan pemahaman kapan waktu yang tepat untuk menikah, saat yang pas untuk hamil dan berapa jarak antarkehamilan. Termasuk program dua anak cukup, mengapa harus dilaksanakan, penjelasannya dapat diberikan saat kursus pranikah,” ungkapnya saat memaparkan serangkaian slide berisi program Suscatin.

Program Suscatin ini sesungguhnya telah digagas sejak tahun 2010. Pelaksanaan program ini diemban oleh Institusi Kementerian Agama yang bertugas memberikan pelayanan pernikahan, yaitu KUA. Materi Suscatin sendiri telah distandarisasi, yaitu: 1) Tata cara dan prosedur perkawinan; 2) Pengetahuan agama; 3) Peraturan perundang-undangan di bidang perkawinan dan keluarga; 4) Hak dan kewajiban suami isteri; 5) Kesehatan reproduksi; 6) Manajemen keluarga dan psikologi perkawinan.

Menanggapi paparan pejabat Kantor Wilayah Kementerian Agama yang ada di hadapannya, salah satu peserta, Sobirin, Penyuluh Agama Kecamatan Bandung Wetan mengakui bahwa kegiatan suscatin ini tidak terlalu diminati, seraya menyoroti bahwa umumnya pasangan calon pengantin lebih mementingkan urusan resepsi, gedung dan katering. “Jadi harus dipikirkan bagaimana penyelenggaraan kursus calon pengantin ini lebih menarik. Aturannya sudah jelas, tinggal bagaimana pelaksanaannya,” tegasnya. (ZDN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top