Home / Berita Utama / Kukurusukan Bareng Gubernur, Kepala BKKBN Jabar Pantau Program KKBPK di Jabar Selatan

Kukurusukan Bareng Gubernur, Kepala BKKBN Jabar Pantau Program KKBPK di Jabar Selatan

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan berbincang akrab dengan Kepala Perwakilan BKKBN Jabar sambil menikmati cemilan lokal di Rancabuaya, Garut Selatan. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan berbincang akrab dengan Kepala Perwakilan BKKBN Jabar sambil menikmati cemilan lokal di Rancabuaya, Garut Selatan. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

GARUT – DUAANAK.COM

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat Sugilar ikut ambil bagian dalam kunjungan kerja Gubenur Jabar Ahmad Heryawan selama tiga hari, 2-4 Januari 2014, ke tiga kabupaten di selatan Jawa Barat. Tak sendirian, Sugilar juga turut menyertakan satu unit Mobil Unit Penerangan (Mupen) program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) atau lebih populer dengan sebutan Mupen KB.

Kehadiran Mupen KB tak pelak mencuri begitu banyak perhatian masyarakat yang dilalui sepanjang rute perjalanan. Maklum, Mupen KB menjadi satu-satunya kendaraan yang secara khusus di-branding program pemerintah. Sementara mobil lainnya didominasi warna hitam polos tanpa embel-embel program.

Tak kurang dari Gubernur Heryawan turut memberikan perhatian khusus kepada Mupen KB. Usai meninjau Curug Lalay di Rancabuaya, Kabupaten Garut, Heryawan menyempatkan diri untuk menyapa secara langsung kru Mupen KB yang setia berada di antrean puluhan mobil sport utility vehicle (SUV) maupun multipurpose vehicle (MPV).

“(Mupen) KB ikut terus, kan? Ayo, kita lanjutkan perjalanan untuk bertemu masyarakat Jawa Barat,” kata Aher, sapaan populer Heryawan, yang hari itu menghabiskan sebagian perjalanan dengan mengemudikan langsung sebuah Toyota Land Cruizer.

Selain mendampingi Gubernur Heryawan, Sugilar tampak aktif berdialog dengan sejumlah warga yang ditemui di sepanjang perjalanan maupun di sejumlah titik pemberhentian rombongan kunjungan. Saat bertemu sejumlah ibu muda di dekat pabrik tapioka di Cidaun misalnya, Sugilar berusaha menyerap informasi alasan penggunaan kontrasepsi di kalangan masyarakat.

“Ibu anaknya berapa? Sudah pakai KB belum? Pakainya (kontrasepsi) apa?” ujar Sugilar tanpa sungkan.

Seorang ibu muda yang datang sambil menggendong anak menjawab lugu. “Abdi mah nganggo KB suntik IUD. Tuh janten garendut kieu,” jawabnya polos.

KB Suntik IUD? Mendengar jawaban sang ibu demikian, Sugilar tersenyum sambil menjelaskan secara telaten jenis-jenis pilihan kontrasepsi. Tentu, kepada para ibu yang bergerombol di tengah kebun jagung tersebut Sugilar menyarankan untuk beralih menggunakan KB metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).

Alih-alih memyambut saran Sugilar, seorang perempuan malah berceloteh, “Aih, Bapak naros-naros KB sagala bade milari nu kasabaraha? Tah ieu tiasa kanggo ku kadua atanapi nu katilu oge.”

Sanes kitu, eta murangkalih tos seueur kitu. Supados murangkalih kaperhatoskeun, ulah seueur teuing. Nganggo KB kedah nu tiasa lami (MKJP), komo kanggo nu nikahna anom keneh mah,” Sugilar menimpali.

Para ibu tadi tampaknya tidak sadar mereka tengah berdialog dengan Kepala Perwakilan BKKBN. Maklum, Sugilar yang hadir didampingi Kepala Sub Bidang Advokasi dan KIE BKKBN Jabar Elma Triyulianti dan kru Mupen KB datang tanpa mengenakan atribut program. Selain tampil dengan kemeja putih polos, para ibu baru sadar kalau Sugilar cs “orang KB” setelah kembali menaikki Mupen KB.

“Ini nih ratu suntik teh ada di sini, di Cianjur,” ujar Sugilar sambil berjalan menuju Mupen KB. Jawaban Sugilar ini mengonfirmasi julukan yang melekat dengan Jawa Barat sebagai daerah dengan kesertaan KB jenis suntik tinggi, mencapai 54 persen dari total peserta aktif KB di Jawa Barat sampai menjelang akhir tahun lalu.

Kepala BKKBN Jabar Sugilar berbincang dengan ibu-ibu di tengah kebun jagung di daerah Cidaun, Kabupaten Garut. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Kepala BKKBN Jabar Sugilar berbincang dengan ibu-ibu di tengah kebun jagung di daerah Cidaun, Kabupaten Garut. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Saat berhenti di perkebunan karet milik PTPN VIII di Agrabinta, Sugilar berbincang akrab dengan seorang tenaga penggerak desa (TPD). Sugilar tampak telaten menyimak keluh-kesah TPD yang mengaku kewalahan harus menangani tiga desa dengan jarak tempuh jauh dan medan yang berat.

Sugilar berusaha ngareugreugkeun sang TPD dengan berjanji untuk berusaha berbicara kepada Gubernur ihwal keluhan ujung tombak program KKBPK di Jabar tersebut. Apa boleh buat, selama ini pemerintah masih kesulitan menambah jumlah petugas KB di lapangan. Adapun TPD merupakan tenaga sukarelawan yang honornya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat.

“Memang pemerintah kesulitan menambah PLKB. Pada saat yang sama, pemerintah pusat tidak bisa serta merta memberikan dana langsung kepada masyarakat atau petugas di daerah. Jalan tengahnya, kami akan berusaha mendorong agar honor TPD dihitung berdasarkan jumlah desa atau kelurahan yang ditangani. Kalau ada TPD misalnya menggarap dua atau tiga desa dan seterusnya, maka dia mendapat honor Rp 750 ribu dikali jumlah desa,” ujar Sugilar.

Nunuy, TPD yang sehari-hari mengurus tiga desa di Kecamatan Agrabinta, pun manggut-manggut. Dia mengamini agar upaya Sugilar tersebut membuahkan hasil. TPD angkatan 2011 ini pun optimistis perubahan pola honor tersebut mampu memompa sangat kerja para TPD. Kalau sudah begitu, maka mesin program KKBPK pun bisa berderu lebih prima.

Menutup rangkaian hari pertama blusukan atau dalam bahasa Sunda dikenal sebagai kukurusukan bersama Gubernur Heryawan, Sugilar pun menginap di salah satu rumah warga. Sugilar terlelap bercampur bersama kru Mupen KB beralaskan karpet di ruang tengah rumah yang belum seluruhnya dicat tersebut.

Kukurusukan Awal Tahun

Sementara itu, kunjungan kerja dengan cara kukurusukan selama tiga hari ini merupakan lanjutan agenda serupa Gubernur Heryawan pada awal Desember lalu. Aher berharap rangkaian kunjungan lapangan awal tahun ini mempertajam hasil kukurusukan lalu, agar sejumlah program pemerintah provinsi berjalan efektif dan lancar, untuk percepatan perkembangan wilayah tersebut.

“Kunjungan lapangan hari ini sebagai kelanjutan kegiatan kemarin (Desember 2014). Kita ingin mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan,” ungkap Aher kepada wartawan di Gedung Negara Pakuan, Kota Bandung, sebelum berangkat.

Kunker dilaksanakan di Kabupaten Bandung, Garut, Cianjur, dan Kabupaten Sukabumi. Sasaran peninjauan meliputi sektor pertanian, perkebunan, peternakan, infrastruktur, dan pariwisata.

Kukurusukan pertama digelar di Balai Pengembangan Benih Kentang, Dinas Pertanian Tanaman Pangan di Desa Sukamanah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Gubernur Aher yang didampingi Kapolda Jabar Irjen Mochammad Iriawan dan para kepada dinas terkait tiba di balai benih sekitar pukul 09:20 WIB.

Diterima Kepala Balai Pengembangan Benih Kentang Iwan Jauhari, Gubernur Aher meninjau laboratorium kultur jaringan, green house penyemaian, dan gudang pemrosesan calon benih.

Aher kepada kepala dan tim ahli balai bertanya seputar proses produksi benih kentang. “Prinsipnya, kita perlu berusaha sekuat tenaga agar kebutuhan benih kentang unggul para petani dapat dipenuhi,” tandasnya.

Gubernur menegaskan ketersediaan benih kentang unggul berpengaruh pada pendapatan dan kesejahteraan petani. Aher lalu meminta kepada jajaran balai untuk bekerja keras agar target produksi benih tercapai.

Menjawab Gubernur, Iwan mengatakan pihak juga secara kontinyu melakukan pelatihan dan penyuluhan kepada petani kentang agar produktivitasnya optimal. “Hasil panen tentu dipengaruhi pada ketepatan budidaya. Karenanya, balai senantiasa membina para petani,” tuturnya.

Usai di Balai Pengembangan Benih Kentang, Gubernur Jabar dan rombongan melanjutkan kunker ke Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Perjalanan hari pertama berlanjut ke Gua Lalay di Cisewu Kabupaten Garut, pabrik Tapioka di Cidaun Kabupaten Cianjur dan bekas tambang pasir besi di Sindang Barang Cianjur. Rangkaian hari pertama ditutup dengan dialog bersama aparat desa setempat di kompleks perkebunan Agrabinta milik PTPN VIII.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top