Home / Berita Utama / Kontrasepsi di Mata Remaja

Kontrasepsi di Mata Remaja

Seorang anggota PIK Remaja menunjukkan kondom sebagai salah satu alat kontrasepsi. (DUAANAK.COM)

Seorang anggota PIK Remaja menunjukkan kondom sebagai salah satu alat kontrasepsi. (DUAANAK.COM)

Hari Kontrasepsi Dunia atau World Contraception Day (WCD) memang didedikasikan bagi remaja atau pemuda di dunia. Kampanye global ini mengusung visi mewujudkan dunia di mana setiap kehamilan adalah diinginkan. Dengan kata lain, tidak ada kehamilan yang tidak diinginkan.

 

Apakah remaja Indonesia mengetahui metode kontrasepsi? Tentu saja jawabannya mengetahui. Setidak-tidaknya mereka pernah mendengar. Kesimpulan ini terekam dalam Laporan Pendahuluan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu. Dalam survei tersebut responden remaja diminta menyebutkan semua metode kontrasepsi yang pernah mereka dengar. Untuk metode yang tidak disebutkan, pewawancara menjelaskan deskripsi metode tersebut dan bertanya apakah responden pernah mendengarnya.

Hasilnya, 95 persen dari remaja perempuan dan 93 persen remaja pria pernah mendengar setidaknya satu metode kontrasepsi. Pengetahuan tentang metode kontrasepi modern di antara remaja belum kawin di Indonesia telah tersebar luas. Secara keseluruhan, perempuan mempunyai pengetahuan lebih dibanding pria tentang cara untuk mencegah kehamilan dengan menggunakan metode kontrasepsi modern, masing-masing 95 persen dan 93 persen. Remaja belum kawin di Indonesia kurang mengenal metode kontrasepsi tradisional. Secara rata-rata perempuan mengetahui lima metode, sedangkan pria mengetahui empat metode.

Metode kontrasepsi yang paling populer di kalangan responden perempuan adalah pil KB (90 persen) dan suntikan KB (89 persen). Delapan dari sepuluh perempuan tahu tentang kondom (80 persen). Seperti yang diperkirakan, metode yang paling umum dikenal oleh responden pria adalah kondom (89 persen). Pengetahuan tentang pil KB dan suntikan KB juga tinggi di antara responden pria (masing-masing sebesar 82 persen dan 66 persen). Secara umum pengetahuan tentang metode kontrasepsi bagi remaja pria dan perempuan umur 20-24 tahun lebih tinggi dibanding kelompok umur 25-19 tahun.

Angka-angka di atas menunjukkan betapa masih terbatasnya pengetahuan mereka terhadap pilihan kontrasepsi. Kondisi menjadi salah satu fokus perhatian kampanye global Hari Kontrasepsi Dunia. Melalui sub tema Your Option, remaja didorong untuk mempelajari tentang semua pilihan kontrasepsi yang tersedia, menggunakan sumber-sumber terpercaya dan tidak bias. Your Life, brand yang dikembangkan secara khusus untuk Hari Kontrasepsi Dunia, memberikan pertimbangan topik kampanye ini efektif dilakukan di kawasan yang di dalamnya terdapat mitos dan kesalahan konsepsi tentang kontrasepsi.

Fakta kontrasepsi remaja ini menarik dicermati dari sisi fertilitas. Ketika tingkat pengetahuan terhadap kontrasepsi tinggi, ternyata angka fertilitas masih tetap tinggi. Bahkan, untuk usia remaja pada rentang usia 15-19 tahun. Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 2010, age spesific fertility rate (ASFR) 15-19 Jawa Barat masih berada pada angka 57 per 1.000 perempuan.  Artinya, 57 dari 1.000 perempuan berusia 15-19 tahun di Jawa Barat sudah melahirkan. Angka tersebut masih jauh di atas ekspektasi nasional sebesar 30/1.000 perempuan.

Angka fertilitas ini juga sejalan dengan pendapat tentang usia kawin, usia ideal melahirkan, pendapat terhadap seks pranikah, dan pengalaman seksual.  Sebanyak 1 persen dari responden perempuan dan empat persen dari responden pria menyatakan wanita boleh melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Sementara untuk pria yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah, 2 persen dari perempuan dan tujuh persen dari pria menyatakan setuju. Secara umum, hanya 1 persen dari responden perempuan yang dilaporkan pernah melakukan hubungan seksual. Adapun untuk pria, 8 persen responden pernah melakukan hubungan seksual.

So, menjadi pekerjaan besar bagi Jawa Barat untuk mendorong remaja menjadikan kontrasepsi sebagai bagian dari perencanaan hidup mereka di kemudian hari. Dengan cara begitu, remaja akan terhindar dari kemungkinan terjadinya kehamilan tak diinginkan atau kemungkinan terinfeksi penyakit menular seksual.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top