Home / Berita Utama / Jabar Tolak Kekerasan di Sekolah

Jabar Tolak Kekerasan di Sekolah

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memimpin Apel Besar Jabar Tolak Kekerasan di lapangan Gedung Sate, 18 Juli 2016. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memimpin Apel Besar Jabar Tolak Kekerasan di lapangan Gedung Sate, 18 Juli 2016. (NAJIP HENDRA SP/DUAANAK.COM)

BANDUNG – DUAANAK.COM

Provinsi Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk menolak segala bentuk kekerasan di lembaga pendidikan. Penegasan tersebut disampaikan melalui Apel Besar Jabar Tolak Kekerasan yang dipimpin Gubernur Ahmad Heryawan berlangsung di halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 18 Juli 2016. Tanggal ini bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah untuk tahun ajaran 2016-2017. Apel yang diikuti ratusan pelajar se-Kota Bandung ini turut dihadiri pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat.

Dalam sambutannya Gubernur Heryawan mengungkapkan kembali harapannya agar jangan ada tindak kekerasan terhadap para siswa, perempuan, termasuk tindak kekerasan terhadap anak di Jawa Barat. “Tidak ada kekerasan berupa memarahi, mempolototi, atau menghukum secara fisik, baik di sekolah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat,” harap Heryawan.

Heryawan tidak memungkiri dulu Jabar dikenal sebagai provinsi dengan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tertinggi di Indonesia. Jumlah tersebut mengalami penurunan signifikan seiring menguatnya peran Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat. Bahkan, kini Jawa Barat menjadi rujukan utama penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di tanah air.

“Sekarang, terutama setelah dibentuknya P2TP2A, Jawa Barat menjadi percontohan penanganan tindak kekerasan di Indonesia,” ujar Heryawan bangga.

Di hadapan peserta apel besar, Heryawan sempat meneriakkan yel-yel berisi pesan penolakan terhadap kekerasan. “Kasih sayang, Yes! Kekerasan, No!” pekik Heryawan diikuti peserta apel. Gubernur juga menuliskan pesan-pesan berisi penolakan terhadap kekerasan di atas spanduk rentang diikuti para pelajar siswa dan pimpinan OPD.

Melengkapi kampanye Jabar Tolak Kekerasan, Gubernur Heryawan melepas rombongan roadshow belasan mobil unit penerangan (Mupen) keluarga berencana milik Perwakilan BKKBN Jabar dan sejumlah kendaraan taruna siaga bencana (Tagana) milik Dinas Sosial Jawa Barat. Roadshow juga diikuti tim Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) Jawa Barat dan sejumlah OPD lain.

Telekonferensi

Apel besar saja tidak cukup. Gedung Sate juga melakukan pemantauan langsung ke sejumlah sekolah di Kota Bandung dan sekitarnya melalui telekonferensi. Telekonferensi atau video conference ini dipimpin Ketua P2TP2A Jawa Barat Netty Prasetiyani Heryawan dengan para siswa di sejumlah sekolah, di antaranya SMA Negeri 11 Bandung, dan SMA Negeri 20 Bandung, dan SMA Badan Perguruan Indonesia (BPI) 1 Bandung.

Saat konferensi tersebut bertanya tentang pelaksanaan masa orientasi siswa atau Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di sekolah bersangkutan. Salah satunya menyangkut tugas-tugas yang biasanya diberikan senior maupun perkenalan menggunakan buku berisi daftar senior yang harus dimintai tandatangan. Di luar itu, Netty menyoroti masalah penggunaan ponsel cerdas alias gadget di kalangan siswa selama berada di sekolah.

Netty lantas meminta secara khusus agar pihak sekolah untuk turut mengawasi penggunaan gadget oleh siswa di sekolah. Bila perlu, tegas Netty, dibuatkan tempat penyimpanan khusus ponsel selama jam pelajaran. Pembatasan penggunaan ponsel penting untuk mencegah akses pelajar terhadap konten pornografi yang marak di dunia maya.

“Konten pornografi hampir ada di seluruh medsos dan susah menghindarinya. Kita (siswa) yang harus memfilternya,” ujar salah seorang siswa dalam dialognya. “Caranya, yaitu dengan mem-block akun mendsosnya,” tambahnya.

Telekonferensi berlangsung selama kurang lebih satu jam. Di bagian akhir, para siswa di masing-masing sekolah menyatakan mendukung gerakan Jabar Tolak Kekerasan. Siswa yang sebagian besar pengurus organisasi siswa intra sekolah (OSIS) dari kelas XI dan XII tersebut juga berusaha meyakinkan pemerintah bahwa di sekolahnya tidak ada kekerasan atau perpeloncoan selama proses PLS.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top