Home / Berita Utama / BKKBN Jabar Perkuat KIE Lini Lapangan

BKKBN Jabar Perkuat KIE Lini Lapangan

Suasana Workshop KIE Below the Line di Jatinangor, Jawa Barat. Workshop diikuti para pengelola kegiatan advokasi dan KIE KKBPK di Jawa Barat. (ELMA TRIYULIANTI/BKKBN JABAR)

Suasana Workshop KIE Below the Line di Jatinangor, Jawa Barat. Workshop diikuti para pengelola kegiatan advokasi dan KIE KKBPK di Jawa Barat. (ELMA TRIYULIANTI/BKKBN JABAR)

JATINANGOR-DUAANAK.COM

Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat bakal terus memperkuat komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) lini lapangan (below the line) untuk menggelorakan program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga (KKBPK) di Jawa Barat. Upaya tersebut diawali dengan pengembangan kapasitas para pengelola program KKBPK lini lapangan kabupaten dan kota se-Jawa Barat melalui Workshop KIE Below the Line selama dua hari, 1-2 Maret 2016, di Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Hadir menjadi peserta aktif workshop antara lain para kepala sub bidang pada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) kabupaten dan kota yang membidangi kegiatan advokasi dan KIE KKBPK, petugas lapangan KB (PLKB) terpilih tingkat Jabar, dan sejumlah mitra kerja BKKBN Jabar. Tampak hadir perwakilan Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Jawa Barat, perwakilan Universitas Padjadjaran (Unpad), Pos KB Jabar, Ikatan Penyuluh KB (IPeKB), Ikatan Penulis KB (IPKB), Ikatan Bidang Indonesia (IBI), widyaiswara Balai Diklat KB Nasional, Forum TPD/TPK Jabar, dan pengelola kegiatan advokasi dan KIE berbasis seni budaya. Workshop dipandu tim Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad.

Selama dua hari tersebut, peserta diajak terlibat aktif dalam sejumlah materi pelatihan. Berikut materi-materi tersebut: 1) Membangun Konsep Diri sebagai Komunikator Andal; 2) Types of Media: Mass vs Interpersonal – Above, Below, Through the Line; 3) Audience Mapping; 4) Media Mapping; 5) Communication Strategy Planning: Effective, Efficient. Di samping itu, peserta juga mendapat pengayaan mengenai Arah dan Kebijakan Advokasi dan KIE BKKBN dari Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Sugilar, Kepala Sub Direktorat Advokasi dan Pencitraan BKKBN Uung Kusmana, Kepala Bidang Advokasi Penggerakkan dan Informasi (Adpin) BKKBN Jabar Rudi Budiman, dan Kepala Sub Bidang Advokasi dan KIE BKKBN Jawa Barat Elma Triyulianti.

Sugilar menjelaskan, penguatan KIE below the line sejalan dengan kebijakan BKKBN Jabar untuk memperkuat peran petugas lini lapangan sebagai ujung tombak pembangunan KKBPK. Dia berharap pelatihan dengan menghadirkan akademisi sebagai narasumber tersebut mampu memberikan sudut pandang baru dalam advokasi dan KIE program KKBPK. Dengan begitu, para petugas lini lapangan bisa mengembangkan teknik-teknik baru KIE yang lebih kontekstual sekaligus mengakar di masyarakat.

“Jangan sampai nanti umbul-umbul lagi atau baligo lagi. Harus ada cara baru dalam melakukan KIE kepada masyarakat,” kata Sugilar saat memberikan arahan kepada peserta. Gilar, sapaan akrab Sugilar, juga menyempatkan diri untuk mengikuti salah satu materi yang dibawakan tim Fikom Unpad tersebut.

Gilar menjelaskan, keberhasilan kegiatan advokasi dan KIE program KKBPK ditentukan dengan tiga indikator. Pertama, persentase pasangan usia subur (PUS) yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang semua jenis kontrasepsi modern dari 10,5 persen berdasarkan Survei Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2013 menjadi 20,5 persen pada 2016 dan terus beranjak naik menjadi 70 persen pada 2019.

Kedua, persentase keluarga yang memiliki pemahaman dan kesadaran tentang fungsi keluarga dari hanya 5 persen pada Survei RPJMN 2013 menjadi 20 persen pada 2016 dan naik menjadi 50 persen pada 2019. Ketiga, persentase masyarakat yang mengetahui tentang isu kependudukan dari 34 persen pada Survei RPJMN 2013 menjadi 42 persen pada 2016 hingga 50 persen pada 2019.

“Guna mengintensifkan garapan, kami kembali memanfaatkan hasil analisis kuadran yang fokus pada dua kuadran utama. Kuadran II ditandai dengan tingkat kesertaan KB atau prevalensi rendah dan angka fertilitas total (TFR) tinggi. Kuadran I ditandai degan prevalensi tinggi tetapi memiliki TFR juga tinggi,” papar Gilar.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top