Home / Berita Utama / BKB Ajarkan Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh

BKB Ajarkan Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh

Kepala BKKBN Fasli Jalal (DOK. BKKBN JABAR)

Kepala BKKBN Fasli Jalal (DOK. BKKBN JABAR)

BANDUNG – DUAANAK.COM

Secara formal, Indonesia balum lama memiliki pijakan hukum untuk memadukan kebijakan pengembangan anak usia dini. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2013 Tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif baru diteken Presiden Susilo Bambang Yudhono pada 28 Agustus 2013 lalu. Namun begitu, masyarakat Jawa Barat suah terlebih dahulu mewadahi spirit itu melalui filosofi silih asah, silih asih, silih asuh.

Berbicara di hadapan ratusan guru pendidikan anak usia dini (PAUD) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Cibiru pada 8 Maret 2014 akhir pekan lalu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal mengingatkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan budaya Parahyangan tersebut. Paradigma baru Bina Keluarga Balita (BKB), ungkap Fasli, mencoba menerapkan nilai-nilai holistik pengembangan anak usia dini yang terintegrasi dengan pola tumbuh kembang anak.

“Orang tua atau keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memiliki peranan penting dalam memastikan tumbuh kembang anak. Perawatan dan pengasuhan ini dalam istilah lokal di Jawa Barat dikenal dengan asah, asih, asuh,” terang Fasli dalam seminar nasional bertajuk “Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Kreatif dan Edukatif Berbasis Budaya Lokal Bagi Pendidikan Anak Usia Dini” tersebut.

Mantan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (kini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini lantas mengutip teori ekologi dalam pendidikan anak. Menurut teori tersebut, anak harus diasuh dan dibesarkan oleh banyak orang. Bukan cuma oleh sepasang orang tua, kakek-nenek, atau paman-tante saja. Perlu orang sekampung untuk membesarkan anak. Pendapat ini diamini oleh Hillary Clinton, istri mantan Presiden Bill Clinton yang belum lama ini berhenti dari jabatan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

“Dalam  buku yang ditulisnya dia mengatakan, It Takes a Village to Raise a Child. Dibutuhkan orang sekampung untuk memastikan tumbuh kembang anak. Mengapa, karena memang tak cukup membesarkan anak oleh orang tua saja. Diperlukan tetangga dan masyarakat. Di mana anak ada, di sana harus ada stimulasi oleh masyarakat. Konsep terbaru soal ini adalah Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif atau (PAUD HI),” terang Fasli.

Dalam kesempatan terpisah Fasli menjelaskan, mengacu kepada Perpres PAUD HI, pengembangan anak usia dini meliputi semua kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait. Aspek perawatan, kesehatan, dan gizi melaui Posyandu, aspek pendidikan melalui kelompok PAUD, dan aspek pengasuhan melalui BKB. Sejalan dengan itu, maka BKKBN mengembangkan inisiatif baru (new initiative) BKB Holistik-Integratif dengan mengambil ruh PAUD HI.

Guru besar ilmu gizi yang sempat menjadi Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mengajak para kader Posyandu untuk juga menjadi kader kelompok BKB dalam upaya meningkatkan program pengasuhan anak. Salah satunya dengan memberdayakan para ibu yang anaknya mengikuti program PAUD. Menurutnya, kerja sama kader  BKB dan kader Posyandu merupakan bagian dari program PAUD HI.

“Pembinaan itu dimulai dari ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Keluarga adalah tempat pertama pendidikan itu. Implikasinya, guru PAUD harus rajin berinteraksi dengan keluarga sama pentingnya dengan berinteraksi dengan guru yang lain. Pada akhirnya kita harus memahami fungsi keluarga,” kata Fasli.

Menyoroti budaya lokal dalam penyelenggaraan BKB HI, belum lama ini BKKBN menerbitkan buku Menjadi Orang Tua Hebat yang di dalamnya menekankan pentingnya pengasuhan. Bagaimana pengasuhan ini ternyata sangat berbasis budaya. Orang tua melakukan pengasuhan sangat tergantung pada kondisi lingkungan yang direfleksikan dan dipengaruhi oleh budaya. Karena itu, dalam pendidikan usia dini kita wajib untuk menggandeng budaya-budaya lokal, membuat kontekstualisasi budaya lokal, sehingga budaya kita terpelihara, berkembang, kokoh dan menjadi basis dari pendidikan usia dini. Kearifan lokal silih asah, silih asih, silih asuh itulah yang kemudian dijewantahkan dalam inisiatif baru BKB HI tersebut.

“Anak bisa Amerika, bisa ke Jepang namun basisnya sebagai bagian dari budaya lolal, sebagai orang Sunda, orang Jawa Barat tidak hilang. Dengan modal itu dia bisa bersaing dengan bangsa manapun tanpa pernah merasa gentar dalam menghadapi budaya manapun,” tandas Fasli.(ZDN/NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top