Home / Berita Utama / Begini Revolusi Mental Dilaksanakan di BKKBN

Begini Revolusi Mental Dilaksanakan di BKKBN

Kepala BKKBN Seharian Safari di Jawa Barat

Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty  saat bertemu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung Sate, Kota Bandung. (DOK. HUMAS PEMPROV JABAR)

Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty saat bertemu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di Gedung Sate, Kota Bandung. (DOK. HUMAS PEMPROV JABAR)

BANDUNG – DUAANAK.COM

Jumat 26 Juni 2015 kemarin, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty menghabiskan waktu seharian penuh di Jawa Barat. Selain bertemu khusus dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Wakil Bupati Bandung Barat Yayat T Soemitra, Surya juga menyambangi peserta capacity building pengelola program pelatihan dan pengembangan (Latbang) dan Balai Diklat KKBPK se-Indonesia di sebuah hotel Bandung dan karyawan Perwakilan BKKBN Jawa Barat di kantor mereka di Jalan Surapati, Kota Bandung.

Menjelang sore, Surya yang didampingi Deputi Bidang Latbang BKKBN Sanjoyo, Kepala BKKBN Jawa Barat Sugilar, dan Inspektur Ketenagaan dan Umum BKKBN Aidin Tentramin ini hadir di tengah-tengah pertemuan petugas lini lapangan program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga (KKBPK) di Kabupaten Bandung Barat. Di sela-sela kepadatan itu, Surya juga masih menyempatkan diri menerima permintaan wawancara dari puluhan pewarta Jawa Barat usai bertemu Gubernur Heryawan di Gedung Sate maupun wawancara khusus dengan Majalah Warta Kencana usai salat Jumat di ruang kerja Kepala BKKBN Jawa Barat.

“Jawa Barat itu merupakan barometer (program KB) nasional. Pemerintah pusat sangat concern terhadap Jawa Barat,” kata salah satu perancang Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga ini di ruang kerja Kepala BKKBN Jabar. Itulah salah satu alasan Surya melakukan safari Jawa Barat setelah sebulan dilantik menjadi orang nomor satu BKKBN.

Apa yang disampaikan mantan Kepala Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Sriwijaya (Unsri) ini di sejumlah tempat? Di luar agenda pembangunan KKBPK secara keseluruhan, Surya menekankan pentingnya revolusi mental dilakukan di lingkungan BKKBN. Pesan ini diungkapkan di hadapan pengelola Latbang dan Balai Diklat maupun karyawan BKKBN Jabar.

“Saya baru sebulan dilantik menjadi Kepala BKKBN. Saya baru melihat-lihat, terbanyak banyak sekali masalah. Berat pekerjaan kita ini. Untuk menghadapinya, kita harus mengubah cara berpikir kita harus melakukan revolusi mental. Cara bekerja kita, sikap kita, terhadap masalah. Bagaimana menyelesaikan masalah itu. Melalui masalah itulah seseorang meningkat derajatnya, meningkat menjadi lebih baik. Seperti bulan Ramadan ini misalnya, kita dilatih sekaligus diuji oleh Allah swt melalui ibadah puasa. Nah, masalah-masalah ini layaknya ujian dari Allah swt untuk kita semua. Kita harus bergotong royong menyelesaikannya,” kata Surya di hadapan karyawan BKKBN Jabar.

Di hadapan anak buahnya itulah mantan anggota Komisi IX DPR RI ini menguraikan agenda revolusi mental di lingkungan BKKBN. Dia menegaskan, sasaran Rencana Strategis BKKBN 2015-2019 harus dicapai dalam upaya mendukung sembilan  Agenda Prioritas Pembangunan yang dikenal sebagai Nawacita. BKKBN turut berperan untuk mewujudkan agenda nomor 5, yaitu “meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia”. BKKBN memiliki tanggung jawab untuk menyukseskan pembangunan sumber daya manusia yang berkaitan dengan prioritas kesehatan dan revolusi mental.

“Revolusi mental harus digalakkan, diinternalisasikan, dan disosialisasikan oleh seluruh jajaran BKKBN untuk memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya saing, dan mempererat persatuan bangsa. Revolusi mental memerlukan dukungan moril dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin,” tegas Surya.

Selayaknya revolusi, sambung dia, maka diperlukan juga pengorbanan dari masyarakat. Sebagai suatu bentuk strategi kebudayaan yang berperan memberi arah bagi terciptanya kemaslahatan hidup berbangsa dan bernegara, basis ideologis revolusi mental adalah Pancasila dengan tiga prinsip dasar Trisakti, yaitu berdaulat secara politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan  berkepribadian dalam bidang kebudayaan.

“Itu berarti upaya perbaikan karakter bangsa melalui revolusi mental sejak awal telah mempunyai koridor yang jelas dan tegas,” Surya menandaskan.

Dalam konteks kekinian, revolusi mental merupakan suatu gerakan seluruh masyarakat, pemerintah dan rakyat, dengan cara yang cepat dan akurat untuk mengangkat kembali nilai-nilai strategis yang diperlukan oleh bangsa dan negara untuk mampu menciptakan ketertiban dan kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan persaingan di era globalisasi. Sebagai sebuah gerakan mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku, revolusi mental adalah sebuah gerakan hidup baru yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

“Revolusi mental mengandung nilai-nilai esensial yang harus diinternalisasi, baik pada setiap individu maupun bangsa, yaitu etos kemajuan, etika kerja, motivasi berprestasi, disiplin, taat hukum dan aturan, berpandangan optimis, produktif-inovatif-adaptif, kerja sama dan gotong royong, serta berorientasi pada kebajikan publik dan kemaslahatan umum. Untuk menjamin BKKBN dapat mencapai sasaran RPJMN dan Renstra 2015-2019 serta berkontribusi nyata mewujudkan dimensi kependudukan dan revolusi mental, perlu disusun suatu strategi yang didukung oleh sumber daya manusia aparatur BKKBN yang siap menghadapi berbagai tantangan lingkungan strategis dan kompeten di bidang tugas masing-masing. Selain itu juga perlu menyiapkan SDM yang dapat menjadi agen perubahan yang mendorong perubahan pikiran, sikap, dan perilaku sesuai dengan nilai strategis revolusi mental, yaitu integritas, kerja keras, dan gotong royong,” papar bekas politkus PDI Perjuangan ini.

Sejalan dengan itu, Surya berhadap karyawan BKKBN dapat menjadi pelopor gerakan revolusi mental. Sebagai pelopor, karyawan BKKBN harus menjadikan revolusi mental sebagai Gerakan Hidup Baru melalui perubahan cara berpikir, cara kerja, dan cara berperilaku yang memperkuat kedaulatan, serta meningkatkan daya saing dan persatuan nasional dalam kebhinnekaan. Revolusi mental harus menjadi gerakan segenap rakyat dan bangsa Indonesia. Revolusi mental melalui Gerakan Hidup Baru akan menghidupkan kembali dan menggelorakan idealisme sebagai sebuah bangsa, menggelorakan kembali rasa keikhlasan dan gotong-royong sesama anak bangsa, serta menjaga gelora api cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam setiap jiwa dan kalbu rakyat Indonesia.

Sebagai pelopor, Surya berharap mulai saat ini segenap karyawan BKKBN dapat menginternalisasi tiga nilai strategis instrumental revolusi mental, yaitu integritas, kerja keras, dan gotong royong. Menurutnya, bangsa yang berintegritas adalah bangsa yang memiliki karakter dan corak berkehidupan yang jujur, dipercaya dan bertanggung jawab. Adapun kerja keras bercirikan etos kerja yang tinggi, sikap optimis, produktif, dan inovatif. Sementara itu, gotong royong bercirikan kerja sama, solidaritas, komunal, dan berorientasi kepada kemaslahatan umum.

Tujuh Tepat: Norma Revolusi Mental BKKBN

Nah, dalam mewujudkan revolusi mental di internal BKKBN, baik di tingkat pusat maupun Perwakilan BKKBN Provinsi, Surya menegaskan, segenap pihak harus dipengaruhi oleh norma ketepatan yang disebut dengan Tujuh Tepat. Perlu dibuatkan sistem reward and punishment yang jelas dan disepakati semua pihak agar upaya mewujudkan revolusi mental di lingkungan BKKBN dapat berjalan dalam koridor yang benar.

Tujuh Tepat yang disebut Surya tersebut meliputi: 1) Tepat azas; agar dalam penerapan seluruh kegiatan berdasarkan sistem regulasi peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan; 2) Tepat waktu; agar seluruh tugas, mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, sampai dengan evaluasi dan monitoring dapat dilaksanakan sesuai koridor waktu yang telah ditetapkan; 3) Tepat sasaran; agar seluruh kegiatan yang dilaksanakan tetap mengacu dan memiliki daya ungkit pada upaya pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMN/Renstra BKKBN 2015-2019; 4) Tepat penggerakan; seluruh kegiatan BKKBN tidak dapat lepas dari peran serta masyarakat, mitra kerja dan stakeholders di seluruh tingkatan wilayah sehingga kita harus memperkuat kemitraan yang aktif.

Kemudian, 5) Tepat pelayanan; agar seluruh jajaran BKKBN mampu memberikan pelayanan yang prima sesuai yang diminta dan dibutuhkan sehingga dapat memuaskan seluruh klien; 6) Tepat kebutuhan; agar seluruh kegiatan yang direncanakan maupun dilaksanakan dapat diukur sesuai kondisi, baik dari sisi tatanan program dan kegiatan, sasaran yang ingin dicapai, anggaran, maupun kondisi kewilayahan (kearifan lokal); dan 7) Tepat jumlah; agar memperhatikan alur input, proses, dan output yang tercatat dengan tepat serta dilaporkan dengan benar.

“Dengan Tujuh Tepat tersebut, kita mulai pancangkan tonggak utama perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi revolusi mental di jajaran BKKBN. Melalui gerakan revolusi mental ini saya juga mengharapkan tumbuhnya kepribadian yang positif dan menjelma dalam wujud budi pekerti luhur, perilaku individual dan sosial yang baik, serta selalu menjaga integritas dengan merujuk kepada nilai-nilai moral dan etik yang berlaku umum. Gerakan revolusi mental yang berhasil juga ditandai dengan terbangunnya modal sosial yang tecermin pada bekerjanya pranata gotong royong, berdayanya masyarakat adat dan komunitas budaya, meningkatnya kepercayaan antarwarga, orientasi untuk menumbuhkan kepedulian sosial, dan hilangnya diskriminasi,” pungkas Surya Chandra.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top