Home / Berita Utama / 30.8% PUS di Jabar Stop Gunakan Kontrasepsi

30.8% PUS di Jabar Stop Gunakan Kontrasepsi

Obat KB Suntik berjangka 1 bulan dan 3 bulan. (DOK. DUAANAK.COM)

Obat KB Suntik berjangka 1 bulan dan 3 bulan. (DOK. DUAANAK.COM)

BANDUNG – DUAANAK.COM

Ada dua masalah yang kerap muncul dalam pemakaian kontrasepsi. Pertama menyakut kesertaan atau contraceptive prevalence rate (CPR) yang rendah, kedua tingginya putus pakai kontrasepsi itu sendiri. Merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LDFE UI), angka putus pakai kontrasepsi di Jawa Barat mencapai 30,8 persen. Angka ini jauh di atas nasional sebesar 27,1 persen.

Dilihat dari alasannya, sebagian besar pasangan usia subur (PUS) memutuskan untuk berhenti menggunakan kontrasepsi atas alasan ingin hamil (8,8 persen). Untuk kasus ini, tidak alasan yang berkaitan dengan karakteristik kontrasepsi. Pemicu lainnya berkaitan dengan efek samping atau masalah kesehatan (8,5 persen). Ada juga mengalami kegagalan kontrasepsi sekitar 2,4 persen.

“Mengapa angka putus pakai ini meningkat? Apakah alat kontrasepsi semakin jelek? Saya tidak melihat itu. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, tingkat sensitivitas kenyamanan seseorang ini makin tinggi. Sehingga ada keluhan sedikit, mereka langusng gak mau pakai. Mereka beralih, mencari yang lebih baik, lebih nyaman,” terang peneliti LDFE UI Zainul Hidayat usai mempresentasikan hasil penelitian bertajuk “Analisis Putus Pakai Kontrasepsi di Jawa Barat” di Bandung belum lama ini.

Dari kisaran angka 30 persen itu, sambung Zainul, ada sekitar 10-12 persen yang akhirnya drop out (DO). Secara khusus Zainul mencatat, kecenderungan orang-orang yang tidak mau menggunakan lagi kontrasepsi itu adalah orang-orang muda yang terdidik. Mereka memahami siklus kesuburan pada tubun perempuan. Dengan begitu, mereka bisa menentukan waktu berhubungan badan pada saat perempuan tidak subur. Di sisi lain, ada di antara mereka yang memilih kembali ke alam. Mereka percaya bahwa alam sesungguhnya menyediakan kontrasepsi secara alami. Caranya dengan mengonsumsi makanan tertentu yang diketahui mampu menekan tingkat kesuburan seseorang.

Zainul menjelaskan lebih jauh, kasus efek samping yang menjadi pemicu putus pakai kerap ditemukan pada mereka yang menggunakan kontrasepsi hormonal. Yakni, pil dan suntik. Kontrasepsi hormonal, terang Zainul, biasanya sangat sensitif terhadap tekanan daran tinggi dan usia. Ini masalah bagi mereka yang sudah menggunakan cukup lama tapi tidak segera dikontrol tidak dicoba untuk dialihkan.

“Saya menemukan salah satu responden yang tiba-tiba pingsan di tengah jalan. Setelah diperiksa, ternyata dia menggunakan kontrasepsi hormonal cukup lama. Usianya sendiri sudah di atas 40 tahun. Dia merasakan tubuhnya sakit, baik kaki tangan maupun kaki. Ini salah satu contoh kasus saja. Mereka sebenarnya mengeluhkan sakit, tetapi malas memeriksakan diri. Ini bahaya bagi pemakai kontrasepsi itu sendiri,” papar Zainul.

Bagaimana dengan kontrasepsi nonhormoal? Pada umumnya keluhan muncul berkaitan dengan kenyamanan pengguna. Hasil penelitian menemukan adanya fakta menarik tentang IUD. Dulu tidak banyak mengeluhkan IUD. Wajar bila kemudian banyak yang mereferensikan untuk teman atau koleganya. Belakangan banyak keluhan seputar kenyamanan dari pengguna IUD.

“Ada yang bilang benangnya sering nojos. Saya secara teknis tidak bisa menjawab, tapi keluhan itu banyak. Sebagai seorang peneliti, saya menilai penyelesaiannya kan gampang. Kenapa harus dibuat benang yang keras ujungnya? Sekarang kan banyak bahan benang yang lebih lembek, lebih lembut. Ini salah satu rekomendasi hasil penelitian,” kata Zainul lagi.

Secara umum, penelitian yang dilakukan di Garut, Indramayu, dan Kabupaten Bekasi ini menunjukkan bahwa tingkat putus pakai untuk metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) sangat rendah. Hal ini berbeda dengan kontrasepsi jangka pendek yang rentan putus pakai seperti halnya pil dan suntik. Kalau sudah begitu, sudah sejatinya masyarakat lebih memilih MKJP.(NJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top